Suatu amalan dinilai niatnya. Amalan tanpa niat tak akan dinilai. Pentingnya niat dalam melaksanakan berbagai amalan. Niat pula yang menentukan apakah suatu amal akan mendapat pahala atau sia-sia. Puasa Ramadhan adalah ibadah tahunan, sudah tentu seharusnya niatnya yang baik dan banyak.
Puasa Orang Soleh
Setiap ibadah mesti disertai dengan ruh ibadah. Ruh adalah nyawa atau jiwa. Tanpa ruh atau tanpa nyawa, tubuh/badan menjadi bangkai. Begitu pula Ibadah yang tidak disertai ruh ibarat bangkai. Sedangkan ibadah
adalah hadiah seorang hamba kepada Tuhannya. Allah tidak memandang rupa lahir atau wajah ibadah kita. Allah memandang hati dan ruh kita.
Begitu juga puasa. Puasa tanpa
roh, hanya dapat lapar dan dahaga saja. Allah tidak akan beri pahala. Tuhan tidak
beri nilai. Apa mungkin kita akan menghadiahkan Allah bangkai. Mau memberi hadiah kepada
manusia barang yang murah saja kita merasa bersalah, apalagi bangkai
yang najis dan berulat. Tetapi itulah yang kita hadiahkan kepada Allah yang
Maha Mulia.
Si hamba yang Maha Hina Dina ini menghadiahkan bangkai yang amat
busuk kepada Tuhannya yang Maha Agung. Kemudian tidak merasa bersalah pula, karena ibadah tanpa ruh.
Malah merasa kita telah beribadah. Kita sudah menunaikan tuntutan. Kita
sudah merasa telah beramal. Kita merasa telah berbuat. Alangkah biadabnya kita. Tak pandai
berperasaan terhadap Tuhan. Sedangkan Tuhan mau kita mengekalkan rasa diri
hina, rasa diri hamba yang lemah, berdosa, serba kekurangan. Rasa
ibadah kita tak sempurna. Entah diterima atau tidak olehNya.
Kita hendak meniru puasa Wali Allah, Kita nak puasa seperti puasa Abuya. Puasa Abuya
adalah puasa rasa. Rasa hamba. Membawa perasaan seorang hamba dan kekal
berperasaan begitu. Abuya rasa semua ibadahnya sepanjang Ramadhan tidak
sah. Anehnya, semua ibadahnya sah, tapi Abuya rasakan ia tidak sah.
Abuya terlalu merasa hamba
Rasa tak memberi apa-apa kepada Allah. Abuya rasa bersalah pada Tuhan.
Sampai Abuya kata dalam nasyid : ‘Aku benci diriku ... Untuk mendapat puasa
Abuya, kita kena dengar selalu nasyid ini.
Abuya rasa ibadahnya tak sah, Abuya rasa bersalah, rasa resah dan
gelisah, rasa hilang bahagia. Abuya rasakan puasanya tak betul, tak
layak diberi pada Allah. Sebab Abuya sangat kenal Allah. Abuya rasakan
kualitas puasanya tak layak dengan keagungan Tuhan.
Hasilnya Abuya rasa takut sangat pada Allah. Setiap hari semakin
kenal, semakin faham dan semakin takut kepada Allah. Namun dalam masa yang sama, rasa sayang
dan cinta padaNya sebab Allah selalu memberi harapan padanya.
Ya Allah rezkikan kami puasa Abuya, puasa yang mampu melahirkan
peribadi ‘Pemburu Akhirat’ yang kerananya Allah akan serahkan bumi ini
padanya. Para sahabat kerana menjadi pemburu akhirat 3/4 dunia
diIslamkan dan jadi milik Islam. Kita pula dijanjikan akan dapat
Islamkan dunia seluruhnya di akhir zaman buat kali ke 2.
Di bulan
Ramadhan yang Allah muliakan, bulan untuk bertaqwa, puasa buatkan kita
makin takut dan cinta pada Allah. Puasa di bulan Ramadhan akan
membuatkan seseorang bertambah lagi rasa hamba. Sebab apa? Sebab puasa itu
adalah suatu perintah Allah sepertu sembahyang. Seseorang bila
melakukannya, hasil sembahyang orang akan merasa hamba. Tenggelam dalam
kebesaran Allah. Begitulah hasil puasa dengan melaksanakan pengorbanan,
tidak makan minum, mujahadatunafs dll, manusia merasa apa yang
dipersembahkan tak sepatutnya dibuat begitu. Dia sepatutnya dalam
keadaan membesarkan Allah. Tetapi apa yang berlaku, dia selalu lalai.
Dalam puasa seseorang takut kepada Allah. Tapi selesai puasa hamba terduduk
dan berkata, ini sajalah yang mampu aku buat, rasa bersalah, rasa sangat
hamba, rasa takut kerana apalah yang Allah nak buat dengan puasa ni?!.
Sama seperti sembahyang, diterima atau ditolak. Dilempar ke muka seperti
kain buruk atau dijunjung penuh kemuliaan. Ke syurga atau ke neraka?
Rasa perasaan tidak sempurna, lemahnya, hinanya. Begitulah Abuya, dia
rasa memberikan sesuatu yg tidak sah, tidak layak sedangkan Allah Maha Mulia.
Puasa Abuya yang hebat membentuk rasa hamba yang tinggi
pada Abuya. Tapi dalam masa yang sama, Abuya rasa ia tidak sah. Itulah
sumber rasa hamba. Ada membaca Al Quran, orang yang membaca merasa mendapat taqwa. Abuya rasa, dia baca
dapat kelalaian. Rasa kurang ajar dengan Al Quran. Al Quran terlalu besar,
terlalu hebat. Datang kepada Nabi yang Agung. Tapi datang kepada Abuya, pada
Abuya seperti kera dapat bunga. Tak pandai menghargai Al Quran. Begitu
juga sembahyang tarawih, bila selesai saja tarawih, Abuya rasa tak betul, tak
guna, tak sah.
Gabungan seluruh rasa hamba dalam bulan Ramadhan akhirnya
seorang hamba akan berteleku karena terlalu takut dan cinta pada
Tuhannya. Rasa diperhatikan dan diawasi. Hidup tidak lagi bebas dari
penglihatan Allah. Rasa tak pernah sendirian, karena rasa ada Allah, ada
Rasul. Makin takut dan cintanya pada Allah melalui Ramadhannya. Itulah
hatinya telah hijrah ke Akhirat.
Perasaan itu menjadikan dia sangat menginginkan berada bersama-sama dengan
Allah dan orang-orang (Wali) Allah. Sedangkan mereka semua sudah berada di
Akhirat. Berlakunya proses rasa hamba membawa kita ke Akhirat adalah
karena mursyid berperanan pada roh. Dia akan terbawa ke akhirat karena
semua yang ditakuti dan dirindui ada di Akhirat. Mari kita usaha sebelum
sampai Akhirat kita dah mesra dengan Akhirat. Ramadhan ini kita cakap
tentang puasa Abuya dan pemburu akhirat.
Rasa ingin bertemu Tuhan dan orang-orang Tuhan. Rasa berkeinginannya hendak bertemu Rasulullah tak putus-putus, sangat diidamkan, sangat hendak
segera mati agar dapat bertemu Rasulullah, kekasihnya. Agar dapat
melihat Allah, kemuncak segala nikmat.
Lihatlah para Sahabat, cinta dan rindu mereka pada Rasulullah
membuatkan mereka teringat akhirat. Sahabat menangis merindui akhirat.
Menunggu hari kematian penuh rindu kerana ada yg menunggu di sana iaitu
Rasulullah saw. Rasulullah sedang menunggu-nunggu mereka.
Kalau dipupuk hati ini, nanti akan rasa rindu dan menangis untuk ke
sana, lebih dari tangiskan dunia. Pupuk ibadah, pakej, selawat kita
nanti kita akan menangis rindukan akhirat. Nanti bila sampai, kita akan
berkata: ‘Ruginya, kenapa baru sekarang sampai, kenapa tak dari lama
lagi….
Nabi Muhammad menunggu kita di sana, dengan pakaian, rumah, makanan,
kenderaan dll yang ‘ma la ainun roat, wala uzunun sami’at, wa la khotoro
‘ala qalbi basyar’. tak kan tak rindu? Sahabat menangis nak ke sana…
Ya Allah, jadikan kami Pemburu Akhirat. Berilah kami subsidi roh di akhir Ramadhan ini. Layakkan kami menjadi orangMu. Amin…
Mix editer from Source: http://anjangmuor.wordpress.com/tag/puasa-abuya/
Suatu amalan dinilai niatnya. Amalan tanpa niat tak akan dinilai. Pentingnya niat dalam melaksanakan berbagai amalan. Niat pula yang menentukan apakah suatu amal akan mendapat pahala atau sia-sia. Puasa Ramadhan adalah ibadah tahunan, sudah tentu seharusnya niatnya yang baik dan banyak.
Puasa Orang Soleh
Setiap ibadah mesti disertai dengan ruh ibadah. Ruh adalah nyawa atau jiwa. Tanpa ruh atau tanpa nyawa, tubuh/badan menjadi bangkai. Begitu pula Ibadah yang tidak disertai ruh ibarat bangkai. Sedangkan ibadah
adalah hadiah seorang hamba kepada Tuhannya. Allah tidak memandang rupa lahir atau wajah ibadah kita. Allah memandang hati dan ruh kita.
Begitu juga puasa. Puasa tanpa
roh, hanya dapat lapar dan dahaga saja. Allah tidak akan beri pahala. Tuhan tidak
beri nilai. Apa mungkin kita akan menghadiahkan Allah bangkai. Mau memberi hadiah kepada
manusia barang yang murah saja kita merasa bersalah, apalagi bangkai
yang najis dan berulat. Tetapi itulah yang kita hadiahkan kepada Allah yang
Maha Mulia.
Si hamba yang Maha Hina Dina ini menghadiahkan bangkai yang amat
busuk kepada Tuhannya yang Maha Agung. Kemudian tidak merasa bersalah pula, karena ibadah tanpa ruh.
Malah merasa kita telah beribadah. Kita sudah menunaikan tuntutan. Kita
sudah merasa telah beramal. Kita merasa telah berbuat. Alangkah biadabnya kita. Tak pandai
berperasaan terhadap Tuhan. Sedangkan Tuhan mau kita mengekalkan rasa diri
hina, rasa diri hamba yang lemah, berdosa, serba kekurangan. Rasa
ibadah kita tak sempurna. Entah diterima atau tidak olehNya.
Kita hendak meniru puasa Wali Allah, Kita nak puasa seperti puasa Abuya. Puasa Abuya
adalah puasa rasa. Rasa hamba. Membawa perasaan seorang hamba dan kekal
berperasaan begitu. Abuya rasa semua ibadahnya sepanjang Ramadhan tidak
sah. Anehnya, semua ibadahnya sah, tapi Abuya rasakan ia tidak sah.
Abuya terlalu merasa hamba
Rasa tak memberi apa-apa kepada Allah. Abuya rasa bersalah pada Tuhan.
Sampai Abuya kata dalam nasyid : ‘Aku benci diriku ... Untuk mendapat puasa
Abuya, kita kena dengar selalu nasyid ini.
Abuya rasa ibadahnya tak sah, Abuya rasa bersalah, rasa resah dan
gelisah, rasa hilang bahagia. Abuya rasakan puasanya tak betul, tak
layak diberi pada Allah. Sebab Abuya sangat kenal Allah. Abuya rasakan
kualitas puasanya tak layak dengan keagungan Tuhan.
Hasilnya Abuya rasa takut sangat pada Allah. Setiap hari semakin
kenal, semakin faham dan semakin takut kepada Allah. Namun dalam masa yang sama, rasa sayang
dan cinta padaNya sebab Allah selalu memberi harapan padanya.
Ya Allah rezkikan kami puasa Abuya, puasa yang mampu melahirkan
peribadi ‘Pemburu Akhirat’ yang kerananya Allah akan serahkan bumi ini
padanya. Para sahabat kerana menjadi pemburu akhirat 3/4 dunia
diIslamkan dan jadi milik Islam. Kita pula dijanjikan akan dapat
Islamkan dunia seluruhnya di akhir zaman buat kali ke 2.
Di bulan
Ramadhan yang Allah muliakan, bulan untuk bertaqwa, puasa buatkan kita
makin takut dan cinta pada Allah. Puasa di bulan Ramadhan akan
membuatkan seseorang bertambah lagi rasa hamba. Sebab apa? Sebab puasa itu
adalah suatu perintah Allah sepertu sembahyang. Seseorang bila
melakukannya, hasil sembahyang orang akan merasa hamba. Tenggelam dalam
kebesaran Allah. Begitulah hasil puasa dengan melaksanakan pengorbanan,
tidak makan minum, mujahadatunafs dll, manusia merasa apa yang
dipersembahkan tak sepatutnya dibuat begitu. Dia sepatutnya dalam
keadaan membesarkan Allah. Tetapi apa yang berlaku, dia selalu lalai.
Dalam puasa seseorang takut kepada Allah. Tapi selesai puasa hamba terduduk
dan berkata, ini sajalah yang mampu aku buat, rasa bersalah, rasa sangat
hamba, rasa takut kerana apalah yang Allah nak buat dengan puasa ni?!.
Sama seperti sembahyang, diterima atau ditolak. Dilempar ke muka seperti
kain buruk atau dijunjung penuh kemuliaan. Ke syurga atau ke neraka?
Rasa perasaan tidak sempurna, lemahnya, hinanya. Begitulah Abuya, dia
rasa memberikan sesuatu yg tidak sah, tidak layak sedangkan Allah Maha Mulia.
Puasa Abuya yang hebat membentuk rasa hamba yang tinggi
pada Abuya. Tapi dalam masa yang sama, Abuya rasa ia tidak sah. Itulah
sumber rasa hamba. Ada membaca Al Quran, orang yang membaca merasa mendapat taqwa. Abuya rasa, dia baca
dapat kelalaian. Rasa kurang ajar dengan Al Quran. Al Quran terlalu besar,
terlalu hebat. Datang kepada Nabi yang Agung. Tapi datang kepada Abuya, pada
Abuya seperti kera dapat bunga. Tak pandai menghargai Al Quran. Begitu
juga sembahyang tarawih, bila selesai saja tarawih, Abuya rasa tak betul, tak
guna, tak sah.
Gabungan seluruh rasa hamba dalam bulan Ramadhan akhirnya
seorang hamba akan berteleku karena terlalu takut dan cinta pada
Tuhannya. Rasa diperhatikan dan diawasi. Hidup tidak lagi bebas dari
penglihatan Allah. Rasa tak pernah sendirian, karena rasa ada Allah, ada
Rasul. Makin takut dan cintanya pada Allah melalui Ramadhannya. Itulah
hatinya telah hijrah ke Akhirat.
Perasaan itu menjadikan dia sangat menginginkan berada bersama-sama dengan
Allah dan orang-orang (Wali) Allah. Sedangkan mereka semua sudah berada di
Akhirat. Berlakunya proses rasa hamba membawa kita ke Akhirat adalah
karena mursyid berperanan pada roh. Dia akan terbawa ke akhirat karena
semua yang ditakuti dan dirindui ada di Akhirat. Mari kita usaha sebelum
sampai Akhirat kita dah mesra dengan Akhirat. Ramadhan ini kita cakap
tentang puasa Abuya dan pemburu akhirat.
Rasa ingin bertemu Tuhan dan orang-orang Tuhan. Rasa berkeinginannya hendak bertemu Rasulullah tak putus-putus, sangat diidamkan, sangat hendak
segera mati agar dapat bertemu Rasulullah, kekasihnya. Agar dapat
melihat Allah, kemuncak segala nikmat.
Lihatlah para Sahabat, cinta dan rindu mereka pada Rasulullah
membuatkan mereka teringat akhirat. Sahabat menangis merindui akhirat.
Menunggu hari kematian penuh rindu kerana ada yg menunggu di sana iaitu
Rasulullah saw. Rasulullah sedang menunggu-nunggu mereka.
Kalau dipupuk hati ini, nanti akan rasa rindu dan menangis untuk ke
sana, lebih dari tangiskan dunia. Pupuk ibadah, pakej, selawat kita
nanti kita akan menangis rindukan akhirat. Nanti bila sampai, kita akan
berkata: ‘Ruginya, kenapa baru sekarang sampai, kenapa tak dari lama
lagi….
Nabi Muhammad menunggu kita di sana, dengan pakaian, rumah, makanan,
kenderaan dll yang ‘ma la ainun roat, wala uzunun sami’at, wa la khotoro
‘ala qalbi basyar’. tak kan tak rindu? Sahabat menangis nak ke sana…
Ya Allah, jadikan kami Pemburu Akhirat. Berilah kami subsidi roh di akhir Ramadhan ini. Layakkan kami menjadi orangMu. Amin…
Mix editer from Source: http://anjangmuor.wordpress.com/tag/puasa-abuya/